Select Menu

Slider

Powered by Blogger.

Blog Archive

Travel

Performance

Cute

My Place

Slider

Racing

Videos






Hadirilah !!

Silaturahim, dialog dan pengijazahan hadits musalsal dengan tema:
"Menguak Kedok Pemikiran Radikalisme Gerakan ISIS (Islamic State Irak & Syam)

Bersama:
1. Syeikh Abdul Baits Al-Kattani
2. Syeikh Ala Mustafa Naimah
3. Dr. Tgh. Lukmanul Hakim (Indonesia)

Bertempat di: Aula KMJ Hay Asyir, Madinet Nasr
Tanggal: Ahad 19 Oktober 2014, pukul 14.30 CLT.

Acara ini diselenggarakan oleh:
KMJ (Keluarga Mahasiswa Jambi) Mesir
PII  (Pelajar Islam Indonesia) Mesir
KMKM (Keluarga Mahasiswa Kalimantan Mesir)
KMNTB (Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara & Bali) Mesir
NW (Nahdlatul Wathan) Mesir

Didukung sepenuhnya oleh:
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir
-
PPMIMESIR.ORG -- Kita Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) selama ini mengetahui bahwa Tingkat Akhir atau Tingkat 4 di perkuliahan Al-Azhar adalah 'zona aman' yang bebas dari Droup Out (DO) atau dikeluarkan dari kuliah.

Karena kita mengira bahwa tingkat ini adalah madal hayah atau tiada batas tahun (unlimited), yaitu tidak dibatasi seberapa tahun kita tinggal (rasib) di tingkat tersebut, tidak jadi masalah. Dan hanya dengan melaporkan diri tiap awal tahunnya ketika ajaran baru ke Syuun Kulliyah untuk tajdid dirasi (pembaharuan kuliah) semua beres.

Kabar ini didapat dari teman Masisir berinisial HM, seorang mahasiswa Ushuluddin tingkat akhir yang pada tahun ini memasuki tahun ketiganya, yang pada hari pertama kemarin, sabtu (11/10/2014) pagi masuk di hari awal perkuliahan Al-Azhar. Dia kaget ketika berurusan dengan Syuun Kulliyah untuk mengurus tajdid dirasi-nya dia dinyatakan sekarang berada di tahun istitsna'i (tahun pengecualian: tahun dimana dia diberikan kesempatan setahun lagi, dan posisinya berada di ambang drop out)

Pihak Syuun Kulliyah menjelaskan, keberadaannya selama dua tahun lalu di tingkat 4 dengan tidak mengikuti ujian sama sekali (absen full) menyebabkan dirinya berada di posisi istitsna'i pada tahun ketiganya ini. Kok bisa? Bukankah tingkat akhir sekarang adalah 'zona aman'-nya, sedang dia selalu men-tajdid dirasi tiap tahunnya? Apakah ini qarar baru?

Tambah mereka, 'zona aman' atau tidak di-drop out itu apabila setengah dari semua mata kuliah di tingkat 4 adalah najah. Yakni, bila mata kuliah ada 15 madah, maka 8 madah-nya harus lulus dan 7 madah yang rasib itu harus bayar 300 LE per madah. Dengan syarat seperti ini (setengah mata kuliah harus najah dan setengah yang rasib harus bayar) dan dilakukan setiap awal ajaran baru saat tajdid dirasi, baru bisa dikatakan dia madal hayah, mau berapa tahun pun dipersilahkan asal dengan 2 syarat tersebut.

Entah, apa ini qarar baru dari Al-Azhar, atau hanya sebatas menakutinya atas ketidakhadirannya  di saat ujian.

Berita ini diturunkan sesuai pernyataan teman Masisir kita ini. Untuk kepastian, esok pagi kami akan mengkonfirmasi langsung ke Syuun Kulliyah Ushuluddin dan menanyakan juga ke Syariah dan Bahasa Arab.

Jika benar, maka tahun ini adalah tahun perjuangan bagi dia untuk lulus menjadi Licence (Lc). Atau paling minimal setengah dari semua mata kuliahnya harus lulus. Jika tidak, ya, wassalam. Mari kita doakan!



Author: Elbasyasyah

-

Rektor Al-Azhar Dr. Abdul Hayy Azb mengatakan bahwa perkuliahan Al-Azhar, baik di Kairo maupun di daerah propinsi dimulai hari ini, Sabtu 11 Oktober 2014.

Beliau mengatakan bahwa seluruh kampus sudah siap untuk kegiatan belajar mengajar, baik kampus Darrasah, kampus Nasr City, maupun Kuliyyah Banat.

Dr. Abdul Hayy Azb diangkat menjadi Rektor al-Azhar oleh Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Thayyib awal Oktober lalu, menggantikan Dr. Usamah Al-Abd yang telah memimpin Universitas Al-Azhar sejak 2011 lalu.

Sumber: Web Al-Azhar, El-Youm Al-Sabi

-
Syaikh al-Azhar kedua: 
Syaikh Ibrahim al-Barmawy
(
1101-1106 H/1690-1695 M)
Beliau adalah Syaikh al-Alamah al-Imam Ibrahim bin Muhammad bin Syihabuddin bin Khalid al-Barmawy. Lahir di desa Barma, markaz Thanta, propinsi Gharbiyah.

Masa kecil beliau dihabiskan dikampung dengan lingkungan yang sangat islami. Saat itu di desa Barma terdapat banyak ulama yang mengajarkan ilmu agama dan kebudayaan. Sebut saja, Syaikh Syamsuddin al-Barmawy dan Syaikh Ali al-Barmawy. Konon, lingkungan beliau di desa adalah faktor utama yang menjadikan beliau seorang ulama besar yang disegani.

Syaikh Ibrahim al-Barmawy menghafal al-Qur’an dan belajar di al-Azhar kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh Abu al-Abbas Syihabuddin Muhammad bin Ahmad al-Qulyuby. Syaikh Ibrahim adalah ulama Syafi’iyyah terkemuka di zamannya. Salah satu murid beliau adalah Syaikh Ibrahim al-Bayumi yang kelak juga diangkat menjadi Syaikh al-Azhar.

Beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1101 H. menggantikan Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi.

Karya-karya beliau, diantaranya:
Hasyiyah ala Syarh al-Syaikh al-Qarrafy
Hasyiyah ala Syarh Abu Qasim
Risalah fi ahkam fal-qaul haul al-kalb wa al-khinzir ala madzab al-Syafi’i
 Al-mitsaq wa al-‘ahd fi man ta’allama fi al-mahd
Syaikh Ibrahim al-Barmawy telah mewakafkan diri beliau kepada halaqah ilmiyah al-Azhar, hingga pada tahun 1106 beliau meninggalkan al-Azhar dan ummat Islam untuk selamanya.

Sumber: al-Azhar al-Syarif fi Dhaui Sirati A’lamihi al-Ajilla, karya Dr. Abdullah Salamah Nasr.
Editor : kangbenzem
-
Syaikh Azhar Pertama: 
Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi
(1010-1101 H/1601-1690 M.)
Beliau adalah Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Ali al-Kharrasyi, orang pertama yang diangkat menjadi Syaikh al-Azhar. Lahir di desa Abu Kharrasy, markaz Syabrakhit, propinsi Buhayra tahun 1010 H/1601 M.

Beliau dididik oleh para ulama terkemuka, seperti ayah beliau sendiri, Syaikh Jamaludin Abdullah al-Kharrasyi, Syaikh Luqony, Syaikh al-Ajhury, Syaikh al-Syamy dan syaikh-syaikh yang lain. Para syaikh mengajarkan beliau kurikulum al-Azhar, berupa ilmu-ilmu agama, ilmu bahasa, sejarah, mantiq dan ilmu kalam.

Murid Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi sangat banyak, lebih dari seratus orang yang menjadi ulama besar, seperti Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayyumy yang menggantikan beliau sebagai Syaikh al-Azhar.

Kehidupan beliau sangat sederhana. Beliau pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membawanya sendiri.

Beliau selalu berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan tidak pernah telat shalat berjamaah di masjid al-Azhar. Madzhab fikih yang beliau anut adalah madzhab Maliki. Beliau menganutnya karena kecintaan beliau yang mendalam kepada Imam Malik.

Beberapa faktor yang menjadikan beliau seorang imam dengan derajat tinggi dalam keilmuan Islam adalah :
Guru-guru beliau yang alim, seperti Syaikh Jamaludin Abdullah al-Kharrasyi, Syaikh Luqony, Syaikh al-Ajhury, Syaikh al-Syamy

Banyaknya buku yang beliau baca dan pelajari, seperti al-Kaukab al-Munir syarh al-Jami al-Shaghir, al-Faraid al-Saniyah syarh al-Mukaddimah al-Sanusiyah dan kitab yang lainnya.

Beliau rajin mengaji di al-Azhar dan madrasah-madrasah yang lain, seperti madrasah al-Iqbighawiyah

Kunjungan beliau ke negeri-negeri Islam di barat dan di Timur dalam kunjungan ilmiah dan kebudayaan.
Karya-kara beliau:
Risalah fi Basmalah
Fathu al-Jalil, fikih Maliki
Al-Syarh al-Kabir, tentang fikih
Al-Syarh al-Shaghir, ringkasan al-Syarh al-Kabir
Muntaha al-Raghbah
Dan karya-karya beliau yang lain.

Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi istiqamah shalat Subuh berjamaah sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada tanggal 27 Dzulhijjah 1101 H/ 1690 M. pada usia 90 tahun.


Sumber: al-Azhar al-Syarif fi dhaui sirati a’lamihi al-ajilla, karya Dr. Abdullah Salamah Nasr. 
Editor : kangbenzem
-